Jumat, 11 Desember 2015

Lawatan / Wisata Tsunami Banda Aceh

Paket Traveling & Tour Wisata Banda Aceh Full Akomodasi dan Transportasi selama 4
hari 3 Malam di Aceh bersama Aceh wisata Tsunami Hari pertama. Jika tuan dan puan tiba pukul 13 siang di Sultan Iskandar Muda  Airport maka tim pemandu wisata profesional dari Aceh Wisata Tsunami akan  Menjemput Tuan/Puan dan langsung ziarah ke makam korban tsunami di lambaro Aceh Besar tidak jauh dari air port (sebanyak 46.100 ribu korban bersemanyam) di lanjutkan degan makan di restoran khas Aceh, selepas tu mengunjungi Mesjid Raya Baiturrahman selepas tu menuuju hotel 3 bintang atau 4 bintang di Banda Aceh, ba’da magrib makan malam di restoran khas Aceh. Hari kedua. Selepas shalat shubuh dan sarapan pagi yang di sediakan pihak hotel lawatan kita mulai ke musseum utama aceh (menyimpan berbagai sejarah
kebudayaan Aceh), di lanjut kan ke Makam Sultan Iskandar Muda, dan Gunongan (Taman Putri Pahang tempat bermain permaisuri Sultan yang berasal dari Pahang) dan lanjut lagi k museum Tsunami (tempat menyimpan berbagai kenangan Tsunami Aceh 2014 silam). Selepas tu kita makan siang di restoran di lanjutkan Shalat Zhuhor di Mesjid Raya Banda Aceh (mesjid Kebanggaan rakyat Aceh).
Selepas siang lawatan di lanjutkan ke kapal kayu di atas rumah (kapal nelayan yang tersangkut di atas rumah penduduk watu tsunami 2014)   lanjut ke Makam Syiah Kuala (Ulama Besar Aceh pada abad ke-17 Masehi)  balek ke hotel istirahat dan ba’da magrib makan malam ke restoran  khas aceh/atau masakan ayam penyet.
Hari ketiga Selepas shalat shubuh dan sarapan pagi yang di sediakan pihak hotel lawatan kita mulai ke Rumah Tcut Nyak Dhien ( Pahlawan Nasional/ Istri Teuku Umar jhohan pahlawan yang gagah berani) dilanjutkan mngunjungi mesjid Rahmatullah (Mesjid di pinggir pantai yang tetap kokoh berdiri ketika tsunami di samping kiri dan kanan dua kilo meter sudah hampa di terjang tsunami) selepas tu boleh makan ikan bakar khas aceh di pantai Lhoknga dekat mesjid lalu lanjut Kapal Apung ( Kapal Tongkang yang berisi mesin listrik hanyut dari laut ke dalam perkampungan di kota) dan ke mesjid Baiturrahim Ule lheu (mesjid di pinggir pantai yang kokoh dekat pelabuhan laut Kota Banda Aceh) selepas tu balek ke hotel istirahat dan ba’da magrib makan malam ke restoran khas aceh.
Hari keempat Selepas shalat shubuh dan sarapan pagi yang di sediakan pihak hotel lawatan kita harus Cek Out dari hotel menuju Airport Sultan Iskandar Muda dan meninggalkan kota tsunami dengan segala kenangannya. Sekian sajian singkat yang dapat kami haturkan dan jika tuan/puan mau merubah rute dan kegiatan lawatan boleh di konsultasikan ke kami semisal membeli souvenir khas aceh, mengunjungi sekolah islam bording yang ada yatim dan piatu, mengunjungi kampus islam Ar-Raniry dan Syiah Kuala, atau bisa tambah hari lawatan ke luar kota semisal kota dingin yang ada danau laut tawar, perkebunan kopi dan kilang kopi di Aceh tengah atau ke Makan Teuku Umar Jhohan pahlawan di Aceh Barat (kota kedua yang hancur di terjang tsunami Aceh) bisa juga ke makam Sultan Malikussaleh (Sultan Malik Al Saleh) di Aceh Utara atau sering di sebut Kesultanan Samudera Pasai, juga dikenal dengan Samudera yang Berjaya pada abad ke-13 Masehi atau lawatan kepulau sabang dengan naik kapal laut selama satu jam yang lautnya indah di kelilingi pulau rubiah. boleh di inbox jika perlu konsultasi lanjutan pesan ke email: aceh.wisatatsunami@gmail.com


Museum Tsunami Aceh

Add caption

Museum Tsunami Aceh (bahasa Inggris: Aceh Tsunami Museum) adalah sebuah museum di Banda Aceh yang dirancang sebagai monumen simbolis untuk bencana gempa bumi dan tsunami Samudra Hindia 2004 sekaligus pusat pendidikan dan tempat perlindungan darurat andai tsunami terjadi lagi.
Desain
Museum Tsunami Aceh dirancang oleh arsitek asal Indonesia, Ridwan Kamil. Museum ini merupakan sebuah struktur empat lantai dengan luas 2.500 m² yang dinding lengkungnya ditutupi relief geometris. Di dalamnya, pengunjung masuk melalui lorong sempit dan gelap di antara dua dinding air yang tinggi — untuk menciptakan kembali suasana dan kepanikan saat tsunami. Dinding museum dihiasi gambar orang-orang menari Saman, sebuah makna simbolis terhadap kekuatan, disiplin, dan kepercayaan religius suku Aceh.[2] Dari atas, atapnya membentuk gelombang laut. Lantai dasarnya dirancang mirip rumah panggung tradisional Aceh yang selamat dari terjangan tsunami

Bangunan ini memperingati para korban, yang namanya dicantumkan di dinding salah satu ruang terdalam museum, dan warga masyarakat yang selamat dari bencana ini.
Selain perannya sebagai tugu peringatan bagi korban tewas, museum ini juga berguna sebagai tempat perlindungan dari bencana semacam ini pada masa depan, termasuk "bukit pengungsian" bagi pengunjung jika tsunami terjadi lagi.
Koleksi
Pameran di museum ini meliputi simulasi elektronik gempa bumi dan tsunami Samudra Hindia 2004, serta foto korban dan kisah yang disampaikan korban selamat.

Kamis, 10 Desember 2015

Kisah Ajaib di Masjid Baiturrahim Ulee Lheue


Tsunami yang terjadi di Aceh pada tahun 2004 silam merupakan peristiwa bersejarah paling kelam sepanjang abad 20. Bencana dahsyat itu telah menewaskan lebih dari 160.000 jiwa. Semua warga Aceh belum bisa melupakan peristiwa besar ini
Banyak cerita nyata yang terselip bahkan tak bisa diterima logika. Satu dari sekian banyak cerita nyata itu adalah Masjid Baiturrahim. Keganasan tsunami tak mampu meluluhlantakkan Masjid yang terletak persis di bibir pantai Ulee Lheue itu, berdiri kokoh di bekas amukan tsunami, Masjid Baiturrahim, Ulee Lheu, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh, menyimpan sejarah panjang yang unik dan heroic.
Azan baru saja berkumandang, pertanda shalat segera dimulai di Masjid Baiturrahim. Warga berbondong-bondong memasuki Rumah Allah untuk shalat berjamaah. Usai shalat, sebagian warga melanjutkan dengan beri’tikaf. Begitulah aktivitas Masjid ini setiap hari. “Shalat lima waktu secara berjamaah selalu kami gelar di sini. Bahkan pada hari terjadinya tsunami (26 Desember 2004), kami juga menggelar shalat Zuhur berjamaah di sini,” tutur Subhan (31), pengurus Masjid Baiturrahim. Masjid Baiturrahim menjadi saksi bisu keajaiban tsunami Aceh tujuh tahun silam. Saat ombak raksasa menghumbalang, masjid yang hanya terpaut puluhan meter dari laut itu, tetap tegak berdiri di Ulee Lheu. Sementara bangunan di sekelilingnya rata dengan tanah. Ulee Lheu merupakan salah satu kawasan padat di Banda Aceh, dengan jumlah penduduk mencapai 6.000 jiwa. Saat tsunami menerjang, lebih dari separuh penduduknya menjadi korban. Empat dusun pun raib usai gelombang surut. “Hari itu saya melihat Ulee Lheu antara percaya dan tidak. Seperti dalam mimpi. Semua rata dengan tanah, satu-satunya bangunan selamat hanya masjid ini,” kenang Subhan.Banyak warga menyelamatkan diri dengan menyesaki lantai satu dan dua masjid ketika tsunami melanda. Maut mengintai, mereka satu-satu diseret arus ke luar dan hilang ditelan pekatnya air bah. 

Hanya sembilan orang yang berhasil naik ke atap selamat.Menurut korban selamat, ada tiga gelombang tsunami menerjang Masjid baiturrahim pascagempa berkekuatan 9 skala richter itu. Setiap gelombang selalu pecah saat menimpa masjid, kemudian bergulung-gulung melumat bangunan-bangunan yang ada di sekelilingnya. Tinggi gelombang mencapai atap masjid atau lebih dari 10 meter. “Kondisi air dalam masjid saat itu begitu tenang, orang bisa berenang antara tiang ini ke tiang itu, sementara di luar bergulung-gulung sangat ganas,” ujar Subhan.Ketika gelombang surut, cerita dia, masjid bersih dari jenazah manusia. Kecuali hanya jasad seorang perempuan tua yang ditemukan di pojok bangunan. Alquran berserakan di lantai dalam kondisi terbuka dan utuh di dalam masjid, tak ada yang dibawa arus. Sementara beberapa bangunan masjid, samping dan belakang, rusak sekira 20 persen. Meski bagunannya tanpa rangka besi atau tulang penyangga, masjid ini tetap berdiri utuh di tengah “ladang pembantaian”. Orang-orang menilai, Allah telah memperlihatkan kuasanya di Masjid Baiturrahim. Subhanallah.
http://www.lintas.me/go/atjehcyber.net/

Masjid Rahmatullah, Saksi Kedahsyatan Tsunami di Lampuuk


Tak lama melintas Gerbang 'Kampung Turki' Lampuuk, kita tiba di sebuah masjid megah berkubah hitam. Diresmikan untuk pertama kalinya pada 12 September 1997 oleh Gubernur Aceh saat itu Prof. Syamsudin Mahmud. Masjid ini diberi nama Rahmatullah. Dibalik kemegahannya, masjid ini menjadi saksi kedahsyatan hempasan gelombang Tsunami yang meluluhlantakkan Aceh, pada 2004 silam. Masjid Rahmatullah menjadi satu-satunya bangunan yang tersisa dari sebuah perkampungan di Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar.
Sebelum Tsunami, perkampungan ini dihuni oleh sekitar 6.000 jiwa yang umumnya berasal dari kelas menengah keatas. Masyarakat di perkampungan ini kebanyakan karyawan PT. Semen Andalas Indonesia, selain terdapat pula nelayan, petani dan berbagai latar belakang profesi lainnya.
Ketika terjadi Tsunami, seluruh bangunan hancur dan terhempas hingga ratusan meter ke arah daratan. Hanya sekitar 700 warga yang selamat, sedangkan ribuan lainnya menemui takdirnya ketika itu.
Dari semua kehancuran yang terjadi, ajaibnya Masjid Rahmatullah yang berjarak hanya sekitar 500 meter dari bibir pantai tetap berdiri dengan kokoh. Meskipun beberapa sisi bangunan masjid rusak, akan tetapi sebagian besar tetap utuh dan selamat.


Hal ini pun mengundang perhatian jurnalis dan fotografer lokal maupun internasional untuk mengabadikannya. Beberapa foto dari berbagai sudut, khususnya foto udara menunjukkan bagaimana keseluruhan kampung di sekitar masjid ini benar-benar rata dengan tanah.
Seiring datangnya bantuan dari dunia internasional, kondisi Aceh yang telah porak poranda perlahan kembali ditata. Tak terkecuali di daerah sekitar pantai Lampuuk. Masjid Rahmatullah pun mengalami renovasi dan diperbesar. Sepasang menara kembar pun ditambahkan dalam arsitektur baru masjid yang menjadikan tampilan masjid yang baru ini menjadi tambah indah.
Meskipun bangunan Masjid Rahmatullah yang baru menjadi lebih megah dari sebelumnya, Beberapa sisi masjid bagian belakang tetap dipertahankan seperti kondisi aslinya yang rusak akibat Tsunami. Hal ini dilakukan sebagai pengingat dan peringatan bagi masyarakat mengenai bahaya bencana Tsunami di masa yang akan datang.

Menyaksikan pemandangan 'Kampung Turki' di tengah bentangan alam Lampuuk dari puncak menaranya, membuat kita tergetar membayangkan kejadian beberapa tahun yang lalu saat ribuan jiwa yang melayang dalam tragedi Tsunami. [Ardee/IndonesiaKaya]

Cerita mistis Kubah Tsunami dan pria beserban putih


Kubah Tsunami begitu wara desa Gurah, Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar menyebutnya. Kubah ini menjadi saksi bisu kedahsyatan tsunami menerjang Aceh 10 tahun silam.
Terdamparnya kubah ini di tengah-tengah persawahan dan berada di lereng gunung menyisakan banyak cerita mistis. Bahkan warga setempat meyakini ada kekuatan mistik hingga kubah ini terdampar jauh dari tempat semula di Masjid Jami Desa Lam Teungoh sekitar 2,5 Km jaraknya.
Sriana (30), seorang pemandu yang telah bekerja setahun ini pernah menemukan tamu yang datang ke tempat ini berkelakuan aneh. Sekitar beberapa bulan lalu, dia mendapati seorang pengunjung paruh baya berdiri terpana saat melihat kubah tersebut.

Lantas, karena Sriana penasaran dengan tingkah laki-laki paruh baya ini, dia bertanya ada apa gerangan sampai ia termenung dan mengucapkan kalimah-kalimah Allah. "Jadi saya tanya kenapa, lalu laki-laki paruh baya itu bilang ada yang membawa kubah ini oleh 3 orang beserban putih," kata Sriana.
Namun sayang, Sriana tidak ingat lagi nama laki-laki tersebut. Demikian juga tidak mengetahui keberadaannya. Karena laki-laki paruh baya itu datang sendiri saat itu. Sriana penasaran dengan perkataan laki-laki misterius ini, lalu dirinya kembali bertanya siapa sosok berpakaian serba putih itu sebanyak 3 orang.
Lalu laki-laki paruh baya itu menyebutkan, seorang ulama besar dan memiliki 2 murid yang selalu bersamanya, yaitu Hamzah Fansuri bersama kedua muridnya yang membawa kubah ini.
"Ini kan kisah mistis, tidak diperlu terlalu percaya, tetapi cukup kita jadi pengetahuan saja, karena bisa saja terjadi hal-hal unik seperti itu, tetapi jangan percaya 100 persen, timpalnya.
Sriana mengaku, tidak jauh dari Masjid Jami, Masjid tempat kubah ini semula ada kuburan seorang ulama besar di Aceh, Tgk Hamzah Fansuri bersama 2 muridnya. Makam tersebut, katanya, saat ini sudah dilakukan pemugaran dan bahkan banyak orang pergi berziarah. Makam ini banyak orang percaya adalah seorang ulama yang keramat dan memiliki ilmu keislaman yang tinggi.
"Di sana memang ada 3 kuburan, 1 kuburan Tgk Hamzah Fansuri, 2 muridnya, makam-makam ini terletak di Ujung Pancu," jelasnya.
Kisah Tgk Hamzah Fansuri memang banyak terjadi kontroversi. Meskipun sudah pergi empat abad lalu, nama harumnya bisa terkenang sampai saat ini. Hamzah Fansuri selain seorang penyair terkenal dan juga meninggal ajaran sufisme hingga menyebar ke daerah-daerah. Sehingga keberadaannya pun misterius, ada banyak pendapat dan beberapa lokasi kuburan yang dipercaya Tgk Hamzah Fansuri.
Kuburan pertama dipercaya ada di Desa Oboh, Kecamatan Runding, Kota Subulussalam. Kemudian satunya lagi berada di di Desa Ujung Pancu, Kecamatan Pekan Bada, Kabupaten Aceh Besar dan pendapat terakhir berada di Makkah.
Sampai saat ini keberadaan pasti makam Tgk Hamzah Fansuri ini tetap misterius dan membuat banyak orang bingung. Kemudian kembali ada pengakuan Kubah Tsunami yang terdampar ini di tengah sawah Tgk Hamzah Fansuri dan kedua muridnya dengan menggunakan baju serba putih yang menyelamatkannya.
Merdeka.com

Kisah Nek Ummi 11 Tahun Tsunami

Banyak kisah yang terjadi 11 tahun lalu, saat gelombang tsunami meluluhlantakkan Aceh. Namun banyak juga kisah gaib di luar nalar manusia, seperti yang dialami Umi Kalsum 58 tahun.
Nenek berusia 58 tahun yang dikenal dengan panggilan Mak Sum ini selamat dari maut berkat bantuan seekor ular.
Pada Minggu pagi 26 Desember 10 tahun silam, Umi Kalsum menuturkan, ia sedang asyik menanam bunga di perkarangan rumannya di Desa Alu Naga, Kabupaten Aceh Besar. "Saya memang suka bunga sejak dari gadis," ujar Umi
Namun tiba-tiba bumi bergoyang dihempas gempa berkekuatan 9,1 skala Ricter. Beberapa menit setelah gempa orang berlarian sambil berteriak air laut naik. "Mak jangan lari, kata anak saya, itu air laut sudah naik. Saya lari sama cucu saya yang saat itu umurnya 5 tahun," cerita Umi.
Belum jauh Umi berlari, tiba-tiba tubuhnya terhempas gelombang tsunami, cucunya terlepas dari genggaman tangannya.
"Kami sudah teraduk-aduk dalam air, sesaat sempat saya liat cucu saya dalam air, saya coba raih tapi tidak dapat, yang ada tangan saya kesangkut di pagar, ini hampir putus," kisah Umi.
Umi Kalsum pun hilang kesadarannya karena terombang-ambing gelombang pekat tsunami. "Saya sadar pertama sudah di jembatan ini (Jembatan Kajhu), ya subhanallah mulut ular itu di depan mata saya, tubuh saya itu dililitnya," ujar Umi Kalsum dalam bahasa Aceh.
Umi tidak tahu sejak kapan ular tersebut bersamanya, "Ada yang lihat orang sini, katanya saya dibawa ular hingga ke tengah sungai, dipikir saya sudah nggak selamat," ucap dia.
liputan6.com

Gedung penyelamat atau escape building.

Gedung penyelamat atau escape building kerap dipakai untuk berbagai simulasi gempa tsunami. Gedung itu tercatat sebagai yang terkuat dan sanggup menahan beban dan goncangan besar. Menjadi objek tersendiri yang menarik sebagai tempat belajar bagi generasi penerus. Secara teori, inilah gedung terkuat di Aceh.
Ada empat escape building di Banda Aceh yang terletak di Kecamatan Meuraxa. Salah satunya dipakai untuk kantor Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC), dikelola oleh Universitas Syiah Kuala.
Gedung itu dibangun pascatsunami yang melanda Aceh Desember 2004 silam. Bangunan empat lantainya kokoh, dan dapat disinggahi oleh helikopter di atasnya. Bangunan dirancang khusus untuk perlindungan bagi warga, jika tsunami singgah lagi di Aceh. Beberapa kali bangunan tersebut telah dipakai dalam rangkaian sosialisasi tsunami yang diadakan pemerintah dan donor.
Dirhamsyah, Direktur TDMRC menyebutkan, bangunan riset itu didanai oleh Badan Rekontruksi dan Rehabilitasi (BRR) Aceh – Nias, dengan anggaran sekitar Rp 15 miliar. Juga dapat berfungsi sebagai escape building.
Sementara bangunan lainnya dibangun dengan bantuan Pemerintah Jepang melalui JICS, berdasarkan konsep awal yang dibuat oleh JICA Study Team dalam project Urgent Rehabilitation and Reconstrcution Plan (URRP) untuk Kota Banda Aceh pada Maret 2005 sampai dengan Maret 2006. Masing-masing gedung menghabiskan anggaran sekitar Rp 10,5 miliar.
Design bangunan escape building ini dibuat oleh konsultan asal Jepang Nippon Koei, Co. Ltd sebagai JICS Study Team pada tahun 2006. Tiap-tiap escape building dibangun dengan luas 1.400 meter persegi.
Bangunan tersebut mempunyai 54 pilar dengan diameter 70 sentimeter. Tinggi gedungnya sekitar 18 meter dengan 4 lantai. Lantai akhir dibiarkan terbuka dan tersedia helipad untuk pendaratan helikopter. Lantai dua mempunyai tinggi sekitar 10 meter, mengikuti tinggi gelombang tsunami Desember 2004 lalu di lokasi gedung tersebut. Sementara lantai lantai satu dibiarkan kosong tanpa partisi untuk menghindari terjangan air tsunami.
Gedung yang dapat menampung evakuasi sebanyak 500 orang tersebut, diset dapat menahan gempa dengan kekuatan 9 – 10 skala richter. Tangga menuju ke lantai atas dibuat dua buah. Satu tangga utama dengan ukuran sekitar dua meter dan satu lagi dengan lebar satu meter. Gedung juga dilengkapi dengan peralatan dan fasilitas untuk evakuasi.
Sehari-hari gedung tersebut juga berfungsi sebagai pusat kegiatan masyarakat sekitar yang juga dibina untuk membentuk masyarakat yang siap dan siaga dalam menghadapi bencana yang mugkin terjadi di masa yang akan datang, sehingga dapat mengurangi risiko dan korban jiwa.
Di gedung tersebut, ada lapangan bulutangkis, ada beberapa ruangan yang dapat difungsikan. Diharapkan dapat digunakan masyarakat untuk kepentingan desa, sambil merawat gedung sendiri. Itulah bangunan kokoh yang saat ini ada di Banda Aceh, sebagai tempat berlindung bila tsunami datang lagi. [Adi W]

Monumen PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel)

Monumen PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel) Apung di Desa Punge, Blancut, Banda Aceh. Sesuai namanya, kapal ini merupakan sumber tenaga listrik bagi wilayah Ulee Lheue – tempat kapal ini ditambatkan sebelum terjadinya tsunami, dengan panjang 63 meter ini mampu menghasilkan daya sebesar 10,5 megawatt. Dengan luas mencapai 1.900 meter persegi dan bobot 2.600 ton, tidak ada yang membayangkan kapal ini dapat bergerak hingga ke tengah Kota Banda Aceh.